Jika Sudah Taubat, Kemana Harta Hasil Korupsi Dikembalikan?

Ilustrasi: uang suap/ korupsi. (Foto: labourpain.org)

Arah -  Siapa tak ingin kaya? Tentu semua orang mau menjadi kaya, karena harta yang melimpah menjadi jalan pembuka untuk berbuat banyak kebaikan. Namun dalam Islam, harta tak hanya harus dipertanggungjawabkan pengeluarannya, tapi juga cara mendapatkannya.

Rasulullah SAW bersabda yang artinya, “Sesungguhnya bagi tiap-tiap umat itu ada fitnah, dan sesungguhnya fitnah bagi umatku adalah harta.” Atas dasar ini, setiap kekayaan kita harus jelas cara mendapatkan dan membelanjakannya.

Lantas, bagaimana jika harta yang dimiliki merupakan harta haram? Seperti hasil menipu, mencuri, riba, rentenir, memakan harta anak yatim, merampas warisan, juga termasuk hasil korupsi. Tentu pada awalnya pelaku harus bertaubat.

Namun taubat saja tidak cukup. Syaikh Abdul Karim Al Khudhair menuturkan, “Barangsiapa yang bertaubat kepada Allah, Allah akan menerima taubatnya. Dan taubat itu menghapus dosa-dosa yang sebelumnya ia lakukan. Dan ia wajib melepaskan diri dari semua harta haram yang ada padanya jika memang itu milik orang lain.”

Menurutnya, jika harta tersebut hasil mencuri atau merampok maka wajib dikembalikan kepada pemiliknya. Jika harta haram tersebut berasal dari transaksi yang haram, maka wajib melepaskan diri dari harta tersebut dan menyalurkannya kepada pihak lain. Niat melakukan hal ini adalah untuk melepaskan diri dari dosa, bukan niat taqarrub kepada Allah SWT. Karena Allah itu baik dan tidak menerima kecuali yang baik.

An-Nawawi menukil perkataan Al-Ghazali, menjelaskan:

“Orang yang pernah mengambil harta haram kemudian ia ingin bertaubat dan berlepas diri darinya, maka jika harta itu ada pemiliknya, wajib ia kembalikan kepadanya atau diserahkan ke orang yang mewakilinya. Jika pemiliknya sudah mati, maka wajib ia serahkan kepada ahli warisnya. Jika dia tidak mengetahui pemiliknya dan dia putus asa untuk bisa menemukannya, maka dia boleh menyalurkan harta yang haram itu untuk kemaslahatan kaum muslimin, seperti fasilitas umum, masjid, atau semacamnya yang bisa dinikmati oleh kaum muslimin. Jika tidak memungkinkan, bisa disedekahkan kepada orang miskin.” (Al-Majmu’ Syarh Muhadzab, 9:428)

Berita Terkait

Uang Urus Perkara di Makamah Agung Sebesar 3 M Uang Urus Perkara di Makamah Agung Sebesar 3 M
KPK Tetapkan Rohadi Tersangka Kasus Pencucian Uang KPK Tetapkan Rohadi Tersangka Kasus Pencucian Uang
KPK Belum Terima Pemintaan Penangguhan Penahanan Irman Gusman KPK Belum Terima Pemintaan Penangguhan Penahanan Irman Gusman

#Kasus Korupsi #Kasus Suap #Haram #Taubat #uang

Ingin informasi lebih, follow dan Like

Komentar