Kisah Atlet Tertua Peparnas 2016, Berjiwa Pemenang di Usia Lanjut

Ashari, atlet tertua di cabor tenis kursi roda saat ditemui di stadion Siliwangi, Minggu (16/10). (Foto: Arah.com/ Ratih Prastika)

Arah - Usianya tak lagi muda. Bisa dikatakan, atlet ini sudah masuk dalam kategori lansia. Umurnya sudah sudah menginjak kepala enam. Tapi, semangatnya masih membara.

Ashari namanya. Dia tercatat sebagai atlet tertua di ajang Peparnas XV Jawa Barat untuk cabor tenis kursi roda. Pria paruh baya ini masih aktif mengikuti pertandingan di lapangan sejak tahun 1995. Di usianya yang ke-62 tahun, Ashari mewakili kontingen Papua untuk berebut medali di ajang olahraga empat tahunan itu.

Namun, bukan semata-semata berlomba menjadi juara. Dalam ajang ini juga dijadikannya sebagai usaha untuk menjaga kesehatan.

"Dalam kondisi begini, untuk bisa membuat tubuh terjaga olahraga ini menjaga badan supaya sehat," ujarnya saat ditemui arah.com di venue tenis kursi roda, Minggu (16/10).

21 Tahun sudah Ashari menjadi seorang atlet. Pengalaman pertamanya yakni mengikuti turnamen di Piala Tien Soeharto di Jakarta. Tidak disangka, di ajang itu dia berhasil menyabet juara satu di nomor pemula dan juara dua untuk nomor beregu.

"Waktu itu ada perebutan piala Ibu Tien Soeharto di Jakarta, dulu untuk pemula juara pertama beregu juara dua," terangnya.

Ketika itu, dirinya masih mewakili Surabaya. Namun, karena alasan tertentu, dua tahun kemudian Ashari terpaksa harus pindah ke Papua menjadi pembina atlet di sana.

"Di Surabaya jaminan untuk atlet tidak memungkinkan sekitar tahun 1997. Di Papua (juga) membutuhkan (pelatih) kalau tidak dilatih difabel Papua akan semakin tertinggal," ungkapnya.

Di tanah Papua, dia menjadi pembina. Bukan hanya khusus cabor tenis kursi roda, tapi untuk beberapa cabor khusus untuk penyandang difabel lainnya.

"Di sana, Papua bagian Merauke paling ujung saya bina angkat berat, renang, atletik ada Tuna Rungu, Tuna Wicara, Tuna Daksa," katanya.

Tak hanya itu, selain dalam bidang olahraga dia juga aktif di organisasi dan memperjuangkan hak-hak kaum difabel. Bahkan, hal itu dilakukannya jauh sebelum dia menjadi atlet.

"Saya salah satu pelopor pendiri Persatuan Penyandang Cacat Seluruh Indonesia, terus yang menyebutkan (salah satu pejuang) undang-undang untuk kuota 1 persen untuk tenaga kerja cacat dibawah Organisasi Hati Nurani Indonesia," tuturnya.

Dalam turnamen terakhirnya di Peparnas ini, dia berharap agar para kaum difabel bisa menyalurkan keahliannya. Dalam keterbatasannya, dia juga meminta kaum difabel bisa menunjukkan potensi dan prestasinya.

"Jangan lihat kalau di dirimu ada hambatan atau kekurangan. Jadikan hambatan ini untuk kemajuan kamu. Dari mana kamu memulai kalau tidak dari dirimu sendiri," terangnya.

"Jangan mengharapkan untuk orang lain, (tapi) dari dirimu sendiri itu harapan saya untuk difabel seluruh Indonesia. Mulailah dari diri sendiri," tambahnya. (Ratih Prastika)

Berita Terkait

Menpora: Peparnas XV Jawa Barat Buat Sejarah Baru Menpora: Peparnas XV Jawa Barat Buat Sejarah Baru
Terungkap! Kenapa Prestasi Tenis Indonesia Nihil Terungkap! Kenapa Prestasi Tenis Indonesia Nihil
Berlari di Atas Ketinggian Manglayang, Berani? Berlari di Atas Ketinggian Manglayang, Berani?

#Peparnas 2016 #jawa barat #Olahraga

Ingin informasi lebih, follow dan Like

Komentar