Setara Institute: Jangan Bawa-bawa Tuhan untuk Membela

Acara Dialog Cinta Indonesia dan Deklarasi Anti Rasis oleh Gerakan Santri Indonesia yang dihadiri (Kanan ke kiri) Robi Sugara, MSc (Direktur Indonesia Muslim Crisis Center), Sjamsiah Ahmad (Tokoh perdamaian), Ismail Hasani, SH., MH (Direktur Riset SETARA Institute). (Foto: Arah.com/Dani Hermansyah)

Arah - Direkrut Riset Setara Institute, Ismail Hasani mengatakan ruang publik Indonesia saat ini mengindikasikan adanya kemunduran dalam proses berdemokrasi. Terkait dengan ajang Pilkada yang disinyalir banyak menebar isu SARA.

"Bahwa pada hari ini kita tahu bahwa ruang publik kita dipenuhi oleh caci maki, oleh kebencian, oleh rasisme, dan seterusnya," kata Ismail dalam suatu diskusi di kawasan Jagakarsa, Jakarta, Jumat (28/10/2016).

Kendati begitu, Ismali mengimbau kepada masyarakat untuk merebut kembali ruang publik dari penggunaan isu SARA khususnya di ajang pemilihan kepala daerah untuk merawat kebhinekaan Indonesia.

"Bangsa ini plural, bhineka, karena itu harus dirawat," ujar Ismail.

Menurutnya, dalam pesta demokrasi saat ini kampanye penyeragaman, berlawanan dari politik yang seharusnya kebhinekaan tunggal ika, dimana pada saat sumpah pemuda itu digerakan.

"Kalau saat ini kampanye penyeragaman, lawan dari politik kebhinekaan, maka kita kembali ke 88 tahun lalu saat sumpah pemuda belum terjadi," tambah dia.

Lebih lanjut, Ismail menuturkan, bahwa pada Oktober 1928, para pemuda Indonesia berhasil direkatkan dengan naskah Sumpah Pemuda. Naskah tersebut, kata dia, dibuat tanpa memandang suku, agama, ras, dan antar golongan (SARA).

Menurut Ismail, Indonesia yang 88 tahun lalu berikrar sumpah pemuda, adalah ikrar bahwa bangsa ini adalah bangsa yang plurar, bangsa yang beragam dan bhineka, yang harus dirawat dalam kehidupan berbangsa dan bernegara termasuk berpolitik.

"Mengutip Mustofa Bisri, kalau tidak sanggup berpolitik ya tidak usah jadi politisi. Jangan bawa-bawa Tuhan untuk membela," ucap Ismail.

Politik penyeragaman tidak akan memberikan kesempatan pada seseorang atau kelompok yang berbeda. Metode berpolitik seperti itu, lanjut dia, merupakan metode politik yang primitif. (Dani Hermansyah)

Berita Terkait

Anies Baswedan: Anak Muda Jangan Diam Anies Baswedan: Anak Muda Jangan Diam
Saefullah Tanggapi 'Dingin' Tudingan Ahok Saefullah Tanggapi 'Dingin' Tudingan Ahok
Ahok: Ada Yang Minta Video Rapat Saya Ahok: Ada Yang Minta Video Rapat Saya

#Setara #Setara Institute #Pilkada DKI Jakarta 2017 #Sumpah Pemuda

Ingin informasi lebih, follow dan Like

Komentar