Bank Dunia Puji Penanganan Kebakaran di Lahan Gambut RI

Petugas BPBD Provinsi Sumatera Selatan dibantu Satpol PP Prov Sumsel, petugas Manggala Agni Daops Banyuasin-OI dan petugas BPBD Kab Ogan Ilir (OI) menyemprotkan air untuk memadamkan kebakaran lahan di Indralaya Utara, Ogan Ilir (OI), Sumatera Selatan, Kamis (11/8). Untuk mencegah meluasnya kebakaran lahan Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan bersama satgas kebakaran hutan dan lahan terus berupaya melakukan pemadaman kebakaran dari udara dan darat. (Foto: Antara/Nova Wahyudi)

Arah -  Direktur Senior Lingkungan dan Sumber Daya Alam Bank Dunia, Julia Bucknall menyatakan urusan gambut adalah hal besar yang perlu dipikirkan semua fihak yang terlibat dalam perundingan iklim.

Bucknall menegaskan hal itu dalam paparannya pada diskusi bertajuk “Restorasi Gambut untuk Generasi Penerus: Kemitraan dan Investasi’. Diskusi diselenggarakan di Pavilion Indonesia pada saat Konferensi Para Pihak (Conference of the Parties) ke-22 di Marrakech, Maroko, 11 November pukul 15.30 waktu setempat (22.30 WIB).

“Kebakaran gambut tahun 2015 menempatkan Indonesia sebagai emiter gas rumah kaca terbesar ketiga di dunia. Namun demikian, apa yang telah dilakukan Pemerintah Indonesia selama waktu yang singkat, delapan bulan terakhir, sungguh luar biasa,” demikian disampaikannya.

Julia mengapresiasi berbagai upaya yang dilakukan Pemerintah serta kerja sama yang baik dengan kelompok masyarakat sipil dan masyarakat lokal. Dukungan mitra internasional memainkan peran penting pula di sini.

Baca Juga:
95 Orang jadi Tersangka Pembakaran Hutan Riau
DPR: PenyanderaanPolisiHutan di Riau Bentuk Respons Masyarakat

Ditegaskannya pula bahwa Bank Dunia sepenuhnya mendukung dilaksanakannya restorasi gambut di Indonesia. Di bawah pengawasan langsung Presiden Joko Widodo, seluruh elemen Pemerintah Pusat dan pemerintah daerah di Indonesia melakukan koordinasi yang efektif untuk mencegah dan menanggulangi kebakaran hutan dan lahan.

Hasilnya terlihat jelas. Pada tahun 2015, kebakaran hutan dan lahan mencapai 2.6 juta hektar. Sebanyak 35% di antaranya berasal dari lahan gambut. Pada tahun 2016, luas kebakaran menyusut hingga 88% dibanding tahun lalu, dan kebakaran di lahan gambut hanya 16%.

Lahan gambut mempunyai kemampuan menyimpan karbon. Kebakaran gambut menyumbang emisi karbon yang besar. CIFOR menyebutkan 880 mega ton emisi karbon dilepaskan akibat kebakaran tahun 2015.

Pada Januari 2016, Presiden Joko Widodo membentuk Badan Restorasi Gambut. Tugasnya adalah melakukan pemulihan ekosistem gambut terdegradasi seluas kurang lebih 2 juta hektar. Badan ini bekerja selama 5 tahun (2016-2020).

Deputi Edukasi, Sosialisasi, Partisipasi dan Kemitraan Badan Restorasi Gambut (BRG), Myrna A. Safitri menyampaikan, BRG telah menetapkan areal indikatif Restorasi gambut seluas 2,4 juta hektar. 

Berita Terkait:
Lagi! Pagi ini Terdeteksi Tiga Ttitk Panas di Sumatera
Anggota DPR Minta Pemerintah Cegah Kebakaran Hutan
Satelit Pantau 27 Titik Api di Wilayah Riau
Singapura Kejar Perusahaan Indonesia Pembakar Hutan
Januari Hingga Juli, 1400 Hektar Hutan Riau Terbakar
Foto: Hutanku Lautan Api, Udaraku Kepungan Asap

Berita Terkait

Lagi! Pagi ini Terdeteksi Tiga Ttitk Panas di Sumatera Lagi! Pagi ini Terdeteksi Tiga Ttitk Panas di Sumatera
Anggota DPR Minta Pemerintah Cegah Kebakaran Hutan Anggota DPR Minta Pemerintah Cegah Kebakaran Hutan
Singapura Kejar Perusahaan Indonesia Pembakar Hutan Singapura Kejar Perusahaan Indonesia Pembakar Hutan

#Kebakaran Hutan #lahan gambut #gambut #Hutan

Ingin informasi lebih, follow dan Like

Komentar