3 Petani Sukamulya Ungkap Kronologis Penangkapan Oleh Aparat

Petani Desa Sukamulya, Majalengka, Carsiman, Sunadi, Darni (dari kiri ke kanan) setelah mendapatkan penangguhan penahanan dari Polda Jabar. (Haryanto/Arah.com)

Arah - Ketiga petani dari Desa Sukamulya, Kecamatan Kertajati, Kabupaten Majalengka yang lahannya akan dijadikan sebagai Bandara Internasional Jawa Barat, sempat dijadikan tersangka oleh pihak kepolisian. Namun pada hari Kamis (24/11) pihak Polda Jabar telah mengabulkan permintaan penangguhan penahanan ketiga petani tersebut.

Carsiman (45), Sunadi (45), dan Darni (66), mengucap syukur atas keluarnya mereka dari Lembaga pemasyarakatan (LP) Polda Jabar yang sempat ditahan selama 7 hari karena diduga telah melanggar pasal 214 yang dianggap telah menghalangi tugas aparat atau kepolisian.

Ditemui di kantor Lembaga Bantuan Hukum (LBH) kota Bandung bersama para istrinya masing-masing, Carsiman salah satu petani merasa tidak menyangka akan merasakan dinginnya ruang tahanan yang baru dialaminya.

"Setelah keluar dari LP saya merasa bahagia, sebelumnya saya tidak menyangka akan masuk LP. Karena pada prinsipnya kami tidak akan pernah punya pikiran untuk melanggar aturan-aturan yang ditentukan oleh pemerintah atau UU," kata Carsiman kepada wartawan di kantor LBH Bandung, Bandung, Kamis (24/11).

Baca Juga:

Partai Demokrat Sebut Jangan Lebay Soal Isu Makar

Jelang Demo212 Isu Makar Meruak, Apa Kata Al Qur'an Soal Makar?

Polri Selidiki Dugaan Agenda Makar 25 November, Siapa Pelapornya?

Ditempat yang sama, Sunadi pun menjelaskan kronologi dirinya ditangkap oleh pihak kepolisian di Desanya yang sempat ricuh, namun ia mengaku merasa lega karena telah keluar dari Lapas.

"Saya cuman nahan aja, jangan dulu masuk sini gitu karena ini tanah Sukamulya yang belum pernah diukur. Saya kan posisinya deket sama polisi, ada yang ngetepel dari jauh dan kena polisi. Jadi pas ngejar kesana ga ke kejar, malah saya yang ditangkap. Baju keangkat keliatan ketepel yang disimpen di celana, padahal engga dipake," jelasnya.

Ia mengaku sempat mendapat beberapa kali pukulan di kepalanya hingga berdarah oleh para aparat keamanan pada saat terjadi kericuhan beberapa waktu lalu.

Pada kesempatan yang sama, petani paling tua yang dijadikan tersangka yaitu Darni pun menceritakan dirinya saat digerebek oleh polisi dirumahnya yang sedang menyeduh segelas kopi dan berniat untuk beristirahat.

"Saat kerusuhan saya ke bale desa, karena disitu banyak orang saya sempet duduk dulu. Mata pedih kena gas air mata. Saat pulang kerumah bikin air kopi, baru di aduk langsung disergap (oleh polisi). Langsung dibawa ke mobil terus di borgol dan langsung dibawa ke Polda," tuturnya.

Dirinya mengaku heran tuduhan penangkapan kepadanya tidak jelas karena ketepel dan lima biji batu yang dibawanya tidak sempat digunakan untuk melukai siapapun di desanya saat kejadian ricuh namun dijadikan barang bukti penangkapannya oleh pihak kepolisian.

Saat ditanya harapan untuk kedepannya, Carsiman mengungkapkan bahwa karena dirinya dan teman-temannya berprofesi sebagai petani maka kedepannya pun berkeinginan untuk menjadi petani.

"Harapan saya sebagai petani, saya bisa bekerja di bidang keahlian saya, kalo saya sebagai petani tentunya menanam padi dan sejenisnya lah," pungkasnya. (Haryanto)

Berita Terkait:
Polisi Tangguhkan Penahanan 3 Petani Terkait Bentrok Majalengka
Gubernur Aher Sesalkan Bentrok Terkait Bandara Kertajati
Majalengka Bersolek Di Bukit Panyaweuyan

Berita Terkait

Polisi Tangguhkan Penahanan 3 Petani Terkait Bentrok Majalengka Polisi Tangguhkan Penahanan 3 Petani Terkait Bentrok Majalengka
Gubernur Aher Sesalkan Bentrok Terkait Bandara Kertajati Gubernur Aher Sesalkan Bentrok Terkait Bandara Kertajati
Majalengka Bersolek Di Bukit Panyaweuyan Majalengka Bersolek Di Bukit Panyaweuyan

#Petani Sukamulya #Ricuh Lahan Bandara #Bandara Kertajati #Majalengka

Ingin informasi lebih, follow dan Like

Komentar