Uni Eropa: Trump Tak Boleh Ubah Kesepakatan Nuklir Iran

Dok. Presiden Amerika Serikat terpilih Donald Trump berbicara di malam pemilihan di Manhattan, New York, Amerika Serikat, Rabu (9/11). (Foto: Antara/REUTERS/Carlo Allegri)

Arah - Sekretaris Jenderal badan kebijakan luar negeri Uni Eropa, Helga Schmid di Brussel mengatakan tim kebijakan luar negeri Presiden terpilih Amerika Serikat Donald Trump telah menyalahartikan kesepakatan nuklir Iran dan bahwa perjanjian nuklir itu tidak untuk dirundingkan kembali.

Menurutnya, Trump yang akan mulai resmi menjabat sebagai presiden pada Jumat setelah ia secara mengejutkan memenangi pemilihan tahun lalu, menyebut perjanjian nuklir 2015 itu sebagai "kesepakatan paling buruk yang pernah dirundingkan". Trump mengancam akan membatalkannya atau mengupayakan kesepakatan yang lebih baik.

"Ada kesalahpahaman bahwa kita bisa merundingkan kembali perjanjian. Itu tidak bisa dilakukan," kata Helga Schmid seperti dikutip Antara dari Reuters.

Baca Juga:

Sidang Selesai Lebih Cepat, Ahok: Enak Dong, Mau Blusukan

Top Skor Liga Inggris: Costa dan Ibrahimovic Tambah Gol

Pernyataan Schmid itu mengacu pada kesepakatan nuklir yang diperantarai oleh Uni Eropa antara Iran, Amerika Serikat, Prancis, Jerman, Inggris, Rusia dan China.

"Kesepakatan itu merupakan perjanjian antara banyak negara, yang tidak bisa dirundingkan kembali secara bilateral," ujarnya.

Ia juga mengingatan bahwa kesepakatan juga telah didukung oleh Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-bangsa.

Perjanjian 2015 menetapkan bahwa sejumlah sanksi terhadap Iran dicabut sebagai imbalan atas kesediaan Teheran untuk mengekang program nuklir. Uni Eropa telah menjalin kontak dengan para penasihat kebijakan luar negeri Trump untuk membicarakan pentingnya upaya menjaga kesepakatan tersebut.

Meski kerap bersitegang, Uni Eropa mengatakan pihaknya sangat setuju dengan China dan Rusia bahwa kesepakatan nuklir Iran harus terus dijaga. Kesepakatan juga bisa membuka pasar Iran setelah selama beberapa dekade hidup di bawah berbagai sanksi. Kemungkinan soal masa depan pasar yang lebih terbuka disambut hangat, baik oleh perusahaan-perusahaan Iran maupun asing.

Iran juga telah mengatakan negara itu tidak akan merundingkan kembali kesepakatan setelah calon Menteri Luar Negeri, Rex Tillerson, yang diumumkan Trump mengatakan ia akan mengajukan "penilaian kembali secara penuh" soal kesepakatan tersebut.

Tetap ikuti berita nasional terkini, hanya di arah.com

Berita Terkait:Trump jadi Presiden, Bagaimana Hubungan Dagang AS dan Uni Eropa?
Kejaksaan Agung Periksa Vice President Pos Indonesia
Pilpres AS, New York Kerahkan Polisi Terbanyak Sepanjang Sejarah
Mesin Pemungutan Suara di Pennsylvania Bermasalah, Ini Kata Trump
Pendukung Trump: Selamat Tinggal Hillary
Tak Punya Hak Pilih, Pelajar Negara ini Ikut Demo Anti-Trump
Hillary 'Kandas', Pendukung: Rasanya seperti 'Kamar Mayat'

Tags : #Jakarta #Donald Trump #Uni Eropa

Berita Terkait

Donald Trump Suarakan Islam Radikal, Indonesia Tak Perlu Tersudut Donald Trump Suarakan Islam Radikal, Indonesia Tak Perlu Tersudut
Respons Kebijakan Anti-impor Trump, Samsung Bangun Pabrik di AS Respons Kebijakan Anti-impor Trump, Samsung Bangun Pabrik di AS
Perang Berlanjut, Sukmawati Ogah Tanggapi Ajakan Mediasi Rizieq Perang Berlanjut, Sukmawati Ogah Tanggapi Ajakan Mediasi Rizieq

#Jakarta #Uni Eropa #Donald Trump

Ingin informasi lebih, follow dan Like

Komentar