Pakar: Penurunan Muka Tanah Perparah Banjir Jakarta

Sejumlah kendaraan menerobos banjir di Jalan Gunung Sahari Raya, Jakarta, Selasa (21/2). Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyebutkan bahwa ada 54 titik banjir yang tersebar di wilayah Jakarta dengan ketinggian bervariasi. (ANTARA FOTO/Aprillio Akbar)

Arah -  Pakar teknik sumberdaya air Universitas Gadjah Mada (UGM) Prof Budi Santoso Wignyosukarto menilai walaupun Jakarta sudah menormalisasikan sungai tetapi jika limpasan hujan di bagian hulunya tidak dikendalikan maka banjir tetap akan terjadi.

Dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Jumat, Budi Santoso mengatakan penanganan banjir di Jakarta juga harus dilakukan dengan mengendalikan pengambilan atau penyedotan air tanah dan mengurangi "subsidence" atau penurunan muka tanah.

Penurunan muka tanah akan diperparah jika ketinggian muka air tempat pembuangan air sungai di pantai utara Jakarta semakin lebih tinggi dari muka tanah Jakarta utara.

Dikutip antara, Budi menjelaskan bahwa penurunan muka tanah yang berlebihan atau kenaikan muka air laut akan semakin mengecilkan kapasitas pembuangan sungai-sungai di Jakarta ke laut, kecuali dibantu dengan pemompaan.

Baca Juga: Dukung Anies-Sandi, Titiek: Saya Lebih Takut Tuhan Daripada .....
Menurut JK Ini Alasan Raja Salman Bawa Rombongan Besar




Menurut Budi, banjir dan kekeringan seperti dua sisi mata uang. "Kalau suatu saat jumlah limpasan air terlalu besar dan terjadi banjir, berarti air yang diresapkan ke bumi semakin sedikit sehingga cadangan air di dalam tanah yang dapat dimanfaatkan di waktu musim kemarau juga akan semakin sedikit. Oleh karena itu, perlu keterpaduan antara upaya konservasi air, upaya pemanfaatan air serta pengendalian banjir," jelasnya.

Dia mengatakan kombinasi tanggul dan pompa, yang dikenal sebagai konsep polder dapat dipakai untuk mengatasi banjir di beberapa tempat yang ketinggian muka air tanahnya lebih rendah daripada muka air laut.

"Pada polder-polder tersebut proses pengelolaan airnya dipisahkan dari daerah yang mempunyai muka tanah yang lebih tinggi dari muka air laut," ujarnya.

Budi mengatakan energi yang mengalirkan air ke muara ditentukan oleh ketinggian muka air di hulu dan ketinggian muka air di laut, sementara di Jakarta, kemiringan ini sangat kecil.

"Dengan begitu, pada saluran drainase di daerah yang sangat kecil kemiringan, kapasitas saluran dapat ditingkatkan dengan memperlebar saluran bukan memperdalam saluran," katanya.

Dia menegaskan bahwa pengelolaan sumberdaya air dalam satu daerah aliran sungai ataupun satu wilayah sungai harus dilakukan secara terpadu dengan memperhatikan siklus hidrologi, sejak air hujan jatuh ke bumi, meresap ke dalam tanah, menguap, mengalir di permukaan dari hulu sampai ke hilir, hingga tiba di muara sungai dan bercampur dengan air laut.

Dengan begitu, satu kejadian di salah satu bagian, baik di hulu maupun di hilir, akan berpengaruh ke bagian lainnya, tambah dia.

Video Trending Pilihan Redaksi:

Berita Terkait

Kata Ahok Soal Banjir Jakarta Hari Ini Kata Ahok Soal Banjir Jakarta Hari Ini
Ini Jalan-Jalan yang Masih Terkepung Banjir Ini Jalan-Jalan yang Masih Terkepung Banjir
Banjir Jakarta Pagi Ini Ketinggian Air Hingga 1.5 Meter Banjir Jakarta Pagi Ini Ketinggian Air Hingga 1.5 Meter

#Jakarta #Ancaman Banjir #Atasi Banjir #Banjir Jakarta

Ingin informasi lebih, follow dan Like

Komentar