Anies Sindir Serangan 'Black Campaign' untuknya Masih 'Cemen'

Calon Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan ketika menggelar kampanye di kawasan Kamal Muara, Penjaringan, Jakarta Utara, Minggu (19/3). (Foto: Arah.com/ Restu Saputra)

Arah - Beredar kontrak politik di media sosial antara pasangan calon gubernur dan wakil gubernur nomor pemilihan tiga, Anies Rasyid Baswedan dan Sandiaga Uno dengan tiga ormas Islam, yakni Forum Umat Islam, Dewan Dakwah Islam Indonesia, dan Hizbut Tahrir.

Dalam kontrak politik itu disebutkan bahwa Aniea-Sandi berencana menerapkan syariat Islam jika terpilih sebagai gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta. Namun Anies menegaskan jika dirinya tidak perlu memberikan klarifikasi apapun terkait kontrak politik yang menyeret namanya tersebut.

Anies melanjutkan, menjelang Pilkada putaran kedua yang akan digelar tanggal 19 April mendatang banyak bermunculan isu maupun fitnah yang dibuat untuk menjatuhkan kredibilitasnya "Gak ada yang perlu di klarifikasi karena itu bukan dari Kita. Justru saya mau tanya, siapa yg bikin itu?," ujar Anies Baswedan di Pelabuhan Sunda Kelapa, Jakarta Utara, Minggu (19/3).

"Apakah sudah sepanik itu ya sampe bikin fitnah yang kelasnya seperti itu. Mari kita jaga Pilkada-nya positif, memikirkan agenda untuk rakyat bukan malah menyebar fitnah," tutur Anies.

Baca Juga: Digempur Kampanye Hitam, Anies: Ini fitnah Lagi!
Ganjar Pranowo Langgar Putusan MA, Warga Kendeng Pasung Kaki

Sementara itu Anies justru menantang pihak yang membuat kontrak politik yang mengatas namakan dirinya mengaku di depan publik. "Jadi malah saya mau tanya yang bikin berani gak menunjukan identitasnya," pungkasnya.

Seperti diketahui sebelumnya tanda tangan yang disebut sebagai milik Anies Baswedan di dalam kontrak itu, bisa dipastikan palsu karena sama sekali berbeda dengan tanda tangan Anies sebenarnya. Di media sosial beredar perbandingan yang menunjukkan perbedaan nyata antara tanda tangan Anies Baswedan pada kontrak politik (palsu), dengan tanda tangan Anies Baswedan yang dikutip dari sebuah dokumen milik "Gerakan Indonesia Mengajar" (asli).

Dari perbandingan kedua tanda tangan itu jelas nyata perbedaannya. Pada kontrak politik tanda tangan (palsu) Anies diawali dengan huruf A menyerupai bentuk segi tiga. Sedangkan pada tanda tangan Anies (asli) pada dokumen "Gerakan Indonesia Mengajar" diawali dengan huruf A menyerupai bentuk oval berdiri. (Restu Saputra)

Video Trending Pilihan Redaksi:

Berita Terkait

Ketika Anies Baswedan Berkampanye di Lumbung Suara Ahok-Djarot Ketika Anies Baswedan Berkampanye di Lumbung Suara Ahok-Djarot
Blusukan di Penjaringan, Anies Janjikan Hal Ini untuk Warga Blusukan di Penjaringan, Anies Janjikan Hal Ini untuk Warga
Sambangi Kediaman Ahmad Dhani, Ini yang Dilakukan Sandiaga Uno Sambangi Kediaman Ahmad Dhani, Ini yang Dilakukan Sandiaga Uno

#Jakarta #Hasil Pilkada DKI #Pilkada DKI Putaran Kedua #Pilkada DKI Jakarta 2017 #Anies-Sandi #Anies Baswedan

Ingin informasi lebih, follow dan Like

Komentar