Cerdas! Begini Cara Petani Bali Cegah Kerugian

Petani merontokkan padi saat panen di Desa Cigadung, Cigugur, Kuningan, Jawa Barat, Senin (25/4). Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan Provinsi Jawa Barat menargetkan produksi padi pada tahun 2016 sebesar 12.068.727 ton gabah kering giling (GKG) dari total luas lahan satu juta hektare. (Foto: Antara/ Ivan Pramana Putra)

Arah -  Petani di Bali telah mengasuransikan sekitar 7 ribu hektare sawah mereka untuk mengantisipasi kerugian jika terjadi gagal panen akibat musim kemarau. 

"Untuk masa tanam April-September 2016, sudah 7.000 hektare sawah yang diikutkan dalam asuransi usaha tani padi (AUTP). Itu semua sudah kami carikan dana CSR (tanggung jawab sosial perusahaan) dari swasta, sehingga para petani tidak perlu membayar apa-apa lagi alias gratis," kata Wisnuardhana, di Denpasar, Ahad (1/5).

Menurut dia, yang dibayarkan lewat dana CSR adalah 20 persen dari premi AUTP yang tidak disubsidi lewat APBN. Besaran premi asuransi setiap hektarenya adalah Rp180 ribu, namun 80 persennya (Rp144 ribu/hektare) sudah ditanggung lewat APBN. "Kami berharap, mudah-mudahan dana CSR yang sudah dijanjikan itu jadi, sehingga petani tidak perlu membayar lagi. Apalagi hal itu memang sudah arahan dari pemerintah pusat," ujarnya.

Wisnuardhana menambahkan, meskipun total luas sawah di Bali, mencapai lebih dari 80.500 hektare, namun yang diikutkan dalam AUTP tidak begitu banyak, karena berkaca dari pengalaman luas sawah yang selama ini mengalami masalah gagal panen akibat kekeringan maupun serangan hama. Pihaknya sengaja menargetkan lebih banyak sawah yang diasuransikan untuk masa tanam April-September 2016 karena potensi gagal panennya lebih tinggi akibat musim kemarau.

Berita Terkait

#Petani #Sawah #panen #Asuransi

Ingin informasi lebih, follow dan Like

Komentar