Rahasia Isra' Mi'raj yang Terjadi di Bulan Rajab

Ilustrasi foto (Foter.com/M.A.J Photography)

Arah - Bulan Rajab merupakan salah satu bulan mulia dalam pandangan Islam. Di dalam bulan tersebut ada sebuah peristiwa yang luar biasa yang hingga sekarang semua umat Islam wajib menjalankannya, yakni salat lima kali dalam sehari.

Isra’ menurut bahasa adalah berjalan di waktu malam. Sementara dalam istilah diketahui, Isra’ merupakan perjalanan Nabi di waktu malam hari dari Masjid Al-Haram ke Masjid Al-Aqsha.

Adapun Mi’raj secara bahasa berarti alat untuk naik atau tangga. Dalam istilah bisanya menyebutnya dengan naiknya Nabi Muhammad, dari Masjid Al-Aqsha ke Sidratul Muntaha.

Peristiwa Isra’ Mi’raj sendiri  kebanyakan ahli sejarah menyatakan terjadi pada tanggal 27 Rajab, satu tahun sebelum hijrahnya Nabi, tepatnya tahun 622 Masehi. Ada pula yang menyebut peristiwa itu terjadi pada tahun 621 Masehi.

Isra’ dan Mi’raj telah tertulis dalam Alquran di Surat Al Isra ayat 1:

“Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah kami berkahi sekelilingnya agar kami perlihatkan kepadanya sebagaian dari tanda-tanda (kebesaran) kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat”

Dalam buku “Terpukau di Sidrotul Muntaha” Agus Mustofa menyatakan ada 8 kata yang dapat menuntun pemahaman tentang Isra’ dan Mi’raj dalam ayat tersebut.

Pertama “Maha Suci Allah yang”, (Subhanalladzii). Awal ayat itu ingin menegaskan perjalanan Rasulullah SAW adalah luas biasa. Atau, Allah bercerita tentang sesuatu yang luar biasa.

Kedua “Memperjalankan” (asraa). Kata itu berarti perjalanaan luar biasa itu bukan kehendak Rasulullah SAW sendiri, melainkan kehendak Allah.

Ketiga “Hamba-Nya” (‘abdihi). Kata hamba menggambarkan Rasulullah SAW pada peistiwa itu sebagai menusia seutuhnya (jiwa dan raganya). Meskipun ada perbedaan di kalangan ulama, ada yang menyebut bahwa peristiwa itu dialami Rasul hanya ruhnya saja.

Baca Juga: Seperti Ini Posisi Tidur Terbaik Menurut Rasulullah
Ini Anjuran Rasulullah Dalam Melakukan Hubungan Suami Isteri

Keempat “Malam Hari” (Laila). Waktu malam memiliki arti penting dalam melakukan komunikasi dengan Allah. Hal itu sesuai dengan perintah Allah untuk melakukan salat malam yang bernilai tinggi, yaitu shalat tahujud.

Kelima “Dari Masjidil Haram ke Masjidil Al-Aqsha”. Perjalanan tersebut dilakukan dari masjid ke masjid karena di dalam masjid terdapat banyak energi positif. Apalagi Masjidil Haram dan Masjidil Aqsa merupakan masjid yang sudah berusia ratusan tahun.

Keenam “Kami Berkati Sekelilingnya” (baaraknaa haulahu). Kata tersebut menggambarkan Allah mengendalikan proses perjalanan tersebut dengan memberkahi sekelilingnya agar tidak muncul kendala yang berarti.

Ketujuh “Tanda-tanda Kebesaran Allah“ (linuriyahu min aayaatina). Allah membimbing Rasulullah dalam Isra’ dan Mi’raj untuk memperlihatkan tanda-tanda kebesaran Allah atas alam semesta ini untuk Rasulullah.

Kedepalan “Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat” (innahu huwassamii’ul ‘bashiir). Allah menegaskan dirinya sebagai yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat untuk membuktikan Isra’Mi’raj dan tak ada keraguan tentang peristiwa itu. *berbagai sumber

Berita Terkait

Ini Alasan Kenapa Bulan Rajab Disebut Bulan Haram Ini Alasan Kenapa Bulan Rajab Disebut Bulan Haram
Ini Curahan Hati Pedagang, Korban Kebakaran Pasar Senen Ini Curahan Hati Pedagang, Korban Kebakaran Pasar Senen
Kapolri Nilai Sikap Radikal Bisa Positif, Jika... Kapolri Nilai Sikap Radikal Bisa Positif, Jika...

#Jakarta #isra mi'raj #puasa rajab #rajab #Isra Miraj #rasulullah saw

Ingin informasi lebih, follow dan Like

Komentar