Kalah Survei, Timses Ahok-Djarot Tetap Yakin Menang, Asal...

Calon Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok menyapa pendukungnya saat mengunjungi Rumah Lembang di Jakarta, Rabu (15/2). Dalam kunjungannya ke Rumah Lembang Ahok bersama pasangannya Djarot Saiful Hidayat mengucapkan terima kasih atas dukungan para pendukungnya. (ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja)

Arah -  Menanggapi hasil survei yang dikeluarkan oleh Saiful Muljani Research Center (SMRC), juru bicara tim sukses pasangan calon gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok)-Djarot Saiful Hidayat, Raja Juli Antoni mengaku santai dan cenderung tidak melihat survei itu sebagai suatu pertanda kealahan Ahok-Djarot di Pilkada DKI 2017.

Raja Juli menyatakan ia melihat naiknya tren Ahok-Djarot sebesar 3,1 persen dalam satu bulan terakhir pada survei itu sebagai acuan utamanya.

"Trennya (Ahok-Djarot) naik dan Anies turun," kata Raja Juli saat dihubungi arah.com, Jumat (14/4/2017).

Dengan tren seperti itu, ia melihat Ahok-Djarot akan menang sebagai gubernur DKI Jakarta periode 2017-2022. Namun ia menggarisbawahi sejumlah faktor yang dapat mengancam kemenangan Ahok-Djarot seperti politik uang, intimidasi dan sikap netral dari penyelenggara Pilkada.

"Itu menandakan kalo gak ada aral melintang, tidak ada money politic, tidak ada intimidasi dan penyelenggara pemilu netral ya dalam proses ini insyallah Ahok-Djarot menang. Tapi kalo tiga (faktor) ini bergerak, ini yang perlu diantisipasi," jelasnya.

Baca Juga: Jeblok di Hasil Survei, Djarot Buka Luka Lama Agus-Sylvi
Ini Harapan Pengais Sampah untuk Pemimpin Jakarta

Sementara menyikapi strategi yang akan digunakan timses Ahok-Djarot dalam sisa dua hari masa kampanye ini, ia mengimbau para relawan dan pendukung Ahok-Djarot untuk lebih kompak dan menarik warga lebih banyak lagi untuk memberikan dukungan. Ia khawatir jika nantinya bukan Ahok-Djarot yang memimpin, maka akan ada potensi sejumlah fasilitas yang dibangun akan hilang.

"Kami mohon kepada pendukung untuk bekerja keras, bahu membahu, kompak dibawah untuk ketuk pintu rumah warga dan pintu hati warga untuk melihat realitas objektif bahwa banyak fasilitas publik yang sudah kita dapatkan dan dinikmati yang ptensial hilang, jika pak Ahok tidak memimpin Jakarta," terangnya.

"Apakah akan percaya kepada pemimpin yang belum teruji?," ujar Sekjen PSI ini.

Pada hasil survei SMRC, pasangan Basuki Tjahaja Purnama-Djarot Saiful Hidayat memiliki elektabilitas 46,9 persen atau kalah dari pasangan Anies-Sandi dengan 47,9 persen.

Populasi survei ini adalah seluruh warga negara Indonesia di Prov. DKI Jakarta yang punya hak pilih dalam pemilihan umum, yakni mereka yang sudah berumur 17 tahun atau lebih, atau sudah menikah ketika survei dilakukan.

Dalam survei ini jumlah sampel sebanyak 800 orang, dipilih dengan metode stratified systematic random sampling. Toleransi kesalahan (margin of error) diperkirakan sebesar ±4,7 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen asumsi simple random sampling. 

Berita Terkait

Soal Pilkada DKI, PBNU: Isu 'Primordial' Tak Bisa Sandera Pemilih Soal Pilkada DKI, PBNU: Isu 'Primordial' Tak Bisa Sandera Pemilih
Kunjungan 'Kilat' di RPTRA Kalijodo, Ini yang Dilakukan Ahok Kunjungan 'Kilat' di RPTRA Kalijodo, Ini yang Dilakukan Ahok
Ternyata Anies Kampanye dengan 'Tweet Jahat' Ternyata Anies Kampanye dengan 'Tweet Jahat'

#Jakarta #Karaoke #Timses Ahok-Djarot #Ahok-Djarot #Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) #Anies-Sandi #Pilkada DKI Putaran Kedua

Ingin informasi lebih, follow dan Like

Komentar