Tangisan Tri Risma untuk Anak-anak Gang Dolly

Tri Risma mendatangi gedung Mahkamah Konstitusi (MK) untuk menjadi saksi di persidangan, Rabu (8/6).

Arah -  Dr.(H.C.) Ir. Tri Rismaharini, M.T terkadang ditulis Tri Risma Harini, atau yang akrab disapa Risma lahir di Kediri, Jawa Timur, 20 November 1961 adalah Wali Kota Surabaya yang menjabat sejak 17 Februari 2016.

Sebelumnya, ia pernah menjabat sebagai wali kota Surabaya pada 28 September 2010 hingga 28 September 2015. Risma adalah wanita pertama yang terpilih sebagai Wali Kota Surabaya sepanjang sejarah.

Risma juga tercatat sebagai wanita pertama yang dipilih langsung menjadi wali kota melalui pemilihan kepala daerah sepanjang sejarah demokrasi Indonesia di era reformasi dan merupakan kepala daerah perempuan pertama di Indonesia yang berulang kali masuk dalam daftar pemimpin terbaik dunia.

Nama Risma semakin ditenar dimana sejarah Gang Dolly di Kelurahan Putat Jaya, Kecamatan Sawahan, Surabaya, Jawa Timur ditutup.

Baca Juga: Ahok: Nggak Ada Kasih Anak Tidak Sekolah Uang KJP
Ahok Beberkan Kemunduran KJP Plus Versi Anies-Sandi

Ketenaran lokalisasi terbesar se-Asia Tenggara ini, telah menjadi sejarah Kota Pahlawan. Wali kota yang dijuluki si singa betina, karena ketegasan dan prinsipnya itu, juga ingin mengajak warganya untuk mencari rizki halal tanpa harus menjadi pekerja seks komersial. Untuk itu, dia berusaha mengangkat harkat dan martabat kaum perempuan dengan memberdayakannya sesuai skil mereka masing-masing.

Sebagai penunjang, Risma mengadakan pelatihan-pelatihan yang kelak bermanfaat. Wali kota perempuan pertama di Surabaya ini, juga memberi bantuan modal hingga mantan penghuni lokalisasi bisa mandiri secara ekonomi.

Alasan yang ketiga, menyangkut masalah pendidikan moral anak-anak hingga usia remaja yang berada di sekitar lokalisasi. Mau tidak mau, geliat prostitusi akan berdampak pada psikologis anak-anak di sekitar lokalisasi. Dalam setiap kesempatan menyangkut masalah penutupan lokalisasi, Risma selalu mengungkapkan, dia pernah menemui PSK yang sudah berumur, tapi yang menjadi langganannya adalah anak-anak sekolah.

Dalam sebuah wawancara dengan stasiun televisi, Risma sempat menangis karena membayangkan nasib anak-anak di Gang Dolly.

"Saya tidak kuat untuk mengatakan apa yang saya ketahui soal kehidupan mereka," ungkap Risma.

Berkat keberaniannya, Risma juga dianugerahi sebagai 'Tokoh Perubahan Republika' pada tahun 2015.

Risma mendapat penghargaan karena keberhasilannya menutup lokalisasi Dolly dan membangun Kota Surabaya dengan segala capaian baik tata kota, inovasi hingga penggunaan teknologi informasi dalam pemerintahan.

Risma bercerita bahwa tidak mudah menjadi seorang pemimpin atau kepala daerah dengan kondisi kota seperti Surabaya yang dulu perlu banyak pembenahan. Kota Pahlawan itu dulu dianggap panas, kotor terutama soal terkenalnya lokalisasi Dolly.

"Di kawasan lokalisasi juga banyak minuman keras! Trafficking! dan kami bisa buktikan apa yang kami lakukan benar," lanjutnya.

Akhirnya, meski mendapat pertentangan luar biasa dari masyarakat terutama beberapa pihak yang selama ini diuntungkan dengan lokalisasi, Risma dengan berbagai cara mulai pendekatan personal, hingga pendekatan kesejahteraan berhasil menutup Dolly.

Video Trending Pilihan Redaksi:

Berita Terkait

Akibat Ojek Online, Pejabat Malaysia Sebut Jakarta ‘Terbelakang’ Akibat Ojek Online, Pejabat Malaysia Sebut Jakarta ‘Terbelakang’
Gejolak Kebijakan Trump Khawatirkan Pemerintah RI Gejolak Kebijakan Trump Khawatirkan Pemerintah RI
Rizieq Dilabeli Status Tersangka, Polri: Tinggal Nunggu Waktu! Rizieq Dilabeli Status Tersangka, Polri: Tinggal Nunggu Waktu!

#Jakarta #Tri Rismaharini #Lokalisasi Dolly #Wali Kota Surabaya

Ingin informasi lebih, follow dan Like

Komentar