Bikin Meleleh, Begini Gantengnya Perancang 'Burung Garuda'

Perancang Lambang Negara Burung Garuda, Sultan Hamid II

Arah -  Lambang negara 'Burung Garuda' dan dasar negara 'Pancasila' tentunya sudah populer di kalangan warga negara Indonesia. Dua hal itu, bahkan sudah menjadi bagian materi pengajaran setidaknya sejak di sekolah dasar.

Upaya pemerintah untuk menyosialisasikan dua hal itu makin gencar, seiring dengan ditetapkannya 1 Juni sebagai hari lahir Pancasila sejak 2016 lalu. Bahkan mulai tahun ini, hari besar itu ditetapkan sebagai libur nasional.

Namun tidak semua orang tahu, soal sosok perancang lambang negara 'Burung Garuda'. Dia adalah raja kesultanan Pontianak, Kalimantan Barat, Sultan Hamid II yang bernama lengkap Syarif Abdul Hamid Alkadrie.

Baca Juga: Ironis! Perancang Burung Garuda Dituduh Makar dan Dipenjara
Sehat dan Awet Muda, Netizen Minta Resep Cantik Titi DJ
Aurel Hermansyah Diminta Segera Menikah, Kenapa Ya?

Pada akhir 1949, Presiden Soekarno menugaskan Hamid membuat rancangan lambang negara. Lelaki berdarah Indonesia-Arab itu pun diangkat presiden sebagai Menteri Negara.

Saat rancangan 'Burung Garuda' dibuat, Hamid berusia 37 tahun. Lulusan Akademi Militer Breda, di Belanda ini punya postur tinggi gagah dengan paras ganteng. 

Pendidikan militer di negeri kincir angin itu, dituntaskannya hingga menyandang pangkat Letnan. Hamid pun kemudian masuk sebagai anggota tentara Kerajaan Hindia Belanda atau KNIL (Koninklijke Nederlands(ch)-Indische Leger).

Saat berfoto dengan mengenakan seragam militer yang licin, Hamid terlihat perlente dan kelimis.

Dengan postur gagah dan paras tampan itu, tak heran jika Hamid berhasil memikat hati seorang non Belanda kelahiran Surabaya Didi van Delden. Didi adalah putri seorang administratur perkebunan teh dan kopi, sebuah jabatan mentereng saat itu.

Berita Lainnya
Bukan Makanan, Ternyata Ini Makna Takjil yang Sebenarnya ...
Begini Penampakan Warga Mosul di Irak Sambut Ramadhan

Sayangnya, kecamuk politik membuat Hamid diadili dengan tuduhan makar. Dia pun divonis bersalah dan dihukum 10 tahun penjara pada 1953. Setelah mendapat sejumlah remisi, dia dibebaskan pada 1958.

Namun tuduhan berulang. Rezim penguasa kembali menangkap Hamid pada 1962 dan memenjarakannya di rumah tahanan militer Madiun. Bersama sejumlah tokoh, dia dituduh makar dengan mendirikan organisasi terlarang Vrijwillige Ondergrondsche Corps (VOC).

Pada 1978, Hamid wafat di Jakarta. Jenazahnya kemudian dimakamkan di komplek pemakaman sultan Pontianak di Batulayang, dengan prosesi resmi kesultanan.

Video Trending Pilihan Redaksi:

Berita Terkait

Kenapa Kepala 'Burung Garuda' Menghadap ke Kanan? Ini Jawabannya Kenapa Kepala 'Burung Garuda' Menghadap ke Kanan? Ini Jawabannya
Pangdam Udayana: Pancasila Pemersatu, Pertahankan Mati-matian! Pangdam Udayana: Pancasila Pemersatu, Pertahankan Mati-matian!
Menag Harap Agama Tidak Dibenturkan Dengan Pancasila Menag Harap Agama Tidak Dibenturkan Dengan Pancasila

#Jakarta #1 Juni hari lahir Pancasila #Hari Lahir Pancasila #Pontianak

Ingin informasi lebih, follow dan Like

Komentar