Facebook Andalkan Algoritma untuk Berantas Terorisme

Situs jejaring sosial Facebook (Freedigitalphotos.net)

Arah - Facebook kerap kali dikaitkan dengan perkembangan terorisme dunia, kini media sosial karya Mark Zuckerberg tersebut bersumpah untuk memperbaikinya. Pada hari Kamis, Facebook mengumumkan rencana baru untuk menggunakan kecerdasan buatan (artificial intelligence) untuk menghapus kata-kata, gambar, dan video yang menjadi propaganda teroris dari jaringan Facebook sepenuhnya.

"Kami saat ini memfokuskan teknik kami yang paling mutakhir untuk memerangi konten teroris tentang ISIS, Al Qaeda dan afiliasi mereka, dan kami berharap dapat memperluas ke organisasi teroris lainnya pada waktunya," kata Facebook dalam sebuah pernyataan tentang pembaruan tersebut dilansir dari Mashable.

Pengumuman tersebut muncul setelah meningkatnya tekanan dari pemerintah dan individu yang terkena dampak terorisme untuk membuat Facebook menghapus materi seperti propaganda teroris atau konten buatan pengguna lainnya yang dapat memicu kekerasan.

Rencana Facebook ini masih membutuhkan tim yang terdiri dari 150 ahli pelawan terorisme sebagai tanggung jawab utama mereka. Kelompok tersebut mencakup pakar kontraterorisme, mantan jaksa, mantan penegak hukum, dan insinyur.

Facebook juga akan bekerja sama dengan berbagai mitra seperti Institute for Strategic Dialogue and Affinis Labs untuk "mendorong mundur ekstremisme dan kebencian secara online," menurut pernyataan tersebut.

Baca Juga: MUI Minta Seluruh Produk Kesehatan Bersertifikasi Halal
Ingat Lagu Salam Ya Ramadhan? Pasti Pangling Deh Sama Aurel

Sejumlah Masalah Dalam Pemberantasan Terorisme

Namun Facebook masih bungkam tentang bagaimana sebenarnya sebagian besar teknologi dasarnya bekerja, namun perusahaan tersebut mengambil langkah maju yang besar dalam berbagi informasi seputar teknologi pencocokan gambarnya.

Sidik jari video yang disebut "hash" digunakan untuk membantu algoritma Facebook menemukan dan akhirnya menghentikan video ekstremis sebelum dipajang atau dipublikasikan.

Masalah lain dalam sistem ini adalah tidak mencegah orang bergabung dengan Facebook, lalu menggunakannya untuk berkomunikasi dengan teroris dan akhirnya merekrut orang lain menggunakan fitur pesan.

Masih tidak jelas juga seberapa baik sistem baru memahami konteks gambar-gambar ini. Misalnya, citra bendera ISIS dapat digunakan dalam propaganda baik untuk dan melawan organisasi teroris.

Komplikasi lain adalah aktivitas teroris bergerak ke area baru di internet, seperti layanan pesan terenkripsi Telegram dan WhatsApp. Ada juga tantangan baru yang dihadirkan oleh Facebook Live, layanan streaming yang memungkinkan orang menyiarkan video langsung ke publik secara real time.

Video Trending Pilihan Redaksi:

Berita Terkait

Tampil Beda, Jokowi Jadi Perhatian di KTT Arab Tampil Beda, Jokowi Jadi Perhatian di KTT Arab
Pengamat: Ini Tiga Syarat TNI Terlibat Pemberantasan Terorisme Pengamat: Ini Tiga Syarat TNI Terlibat Pemberantasan Terorisme
Wiranto Dukung TNI Dilibatkan dalam Penanganan Terorisme Wiranto Dukung TNI Dilibatkan dalam Penanganan Terorisme

#Jakarta #Berantas Terorisme #Perangi Terorisme #Terorisme #Pemberantasan Terorisme #Facebook

Ingin informasi lebih, follow dan Like

Komentar