KPK Gandeng Ulama Bendung Perilaku Korupsi di Indonesia

Ketua KPK Agus Rahardjo (kedua kiri), Ketua BPK Moermahadi Soerja Djanegara (kedua kanan), Wakil Ketua BPK Bahrullah Akbar (kanan) dan Wakil Ketua KPK Laode M. Syarif (kiri) memaparkan hasil OTT di Gedung KPK, Jakarta, Sabtu (27/5). Serta menyita uang sebanyak Rp40 juta, Rp1,145 miliar dan 3.000 Dolar AS yang diduga terkait pemberian predikat Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) BPK terhadap Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi. (Foto: Antara/ Sigid Kurniawan)

Arah - Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Agus Rahardjo mengajak pemuka agama aktif memberantas atau mencegah korupsi terutama di lingkungan penyelenggara pemerintahan baik pusat maupun daerah.

Menurut Agus, salah satu upaya mengurangi tindak pidana korupsi dengan memaksimalkan peran penting tokoh maupun pemuka agama yang ada di seluruh lapisan masyarakat.

Hal tersebut diungkapkan Agus saat mengunjungi Pondok Pesantren (Ponpes) Tebuireng, Jombang, Jawa Timur dan bertemu Pengasuh Ponpes Tebuireng KH Sholahudin Wahid (Gus Sholah), sejumlah kiai, dan santri serta para tokoh lintas agama.

"Pemuka agama mempunyai peran penting dalam menyebarkan semangat antikorupsi. KPK selalu siap bekerja sama dengan organisasi agama dalam mengimplementasikan pencegahan korupsi di masyarakat," kata Agus melalui keterangan tertulisnya yang diterima Antara di Jakarta, Sabtu (29/7).

Baca Juga: Konten Video di Internet Makin Diminati Segala Umur
Garam Langka, DPR Minta Pemerintah Segera Resmikan BAPANAS

Agus menegaskan bahwa KPK adalah milik masyarakat sehingga selayaknya KPK ingin semaksimal mungkin hadir untuk masyarakat.

"Serangan-serangan yang dihadapi KPK sejak berdiri tidak mungkin dapat dilewati tanpa dukungan dan bantuan mayarakat. KPK berharap setiap elemen masyarakat termasuk pemuka agama untuk tetap berdiri bersama dalam pemberantasan atau pencegahan korupsi," kata Agus.

Selain itu, KPK juga mengharapkan dapat hadir di pesantren-pesantren, gereja, pura, dan wihara untuk menyuarakan antikorupsi.

Pada kesempatan yang sama, Gus Sholah menyatakan bahwa korupsi adalah kejahatan teroganisasi sama halnya seperti narkoba dan terorisme.

Dalam perkembangannya Indonesia termasuk terbelakang menghadapi pemberantasan korupsi, misalnya karena sistem hukum yang lemah dan belum didukung semua pihak.

"KPK adalah anak anak kandung reformasi. Indeks persepsi korupsi (IPK) Indonesia membaik, namun beberapa tahun tertahan dan melambat," kata Gus Sholah dikutip Antara.

Lebih lanjut, Gus Sholah menyatakan bahwa rezim dan negara banyak yang runtuh karena korupsi dan salah urus. Menurut Gus Sholah, KPK saat ini dalam posisi strategis dan tetap dipercaya rakyat, namun KPK juga harus mau menerima apabila mendapat kritik dan kesalahan yang ada untuk maju ke depan.

"Kehancuran ekosistem dan ragam hayati karena eksplorasi dari zaman Orba sudah sangat parah. 40 persen usaha tambang tidak punya NPWP. Rusaknya mentalitas aparatur juga pada level kronis," tutupnya.

Video Trending Pilihan Redaksi:

----

Berita Terkait

KPK Diminta Tuntaskan Kasus Suap Emirsyah, Jika Tidak... KPK Diminta Tuntaskan Kasus Suap Emirsyah, Jika Tidak...
Polri Dianggap Bisa Kewalahan Jika Rizieq Dikriminalisasi Polri Dianggap Bisa Kewalahan Jika Rizieq Dikriminalisasi
Patrialis Akbar Ditangkap KPK, Ketua MK:Ya Allah Saya Mohon Ampun Patrialis Akbar Ditangkap KPK, Ketua MK:Ya Allah Saya Mohon Ampun

#Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) #Antikorupsi #ulama islam #Ulama #Gus Sholah #Jakarta

Ingin informasi lebih, follow dan Like

Komentar