Pengelola Hutan Barut Terus Promosikan Hasil Kerajinan Rotan

Seorang pengrajin rotan menyelesaikan pembuatan kursi goyang di Kota Pekanbaru, Riau, Selasa (23/8). Pengrajin mengatakan kerajinan rotan Pekanbaru bisa bersaing mengalahkan rotan imitasi dari plastik karena pembeli lebih memilih rotan yang tahan lama dan dingin ketimbang plastik. (ANTARA FOTO/FB Anggoro)

Arah -  Kantor Kesatuan Pengelolaan Hutan Produksi Barito Hulu Unit V Kabupaten Barito Utara, Kalimantan Tengah terus mempromosikan hasil kerajinan rotan warga Desa Tambaba Kecamatan Gunung Purei.

"Promosi ini terus dilakukan, baik mengikuti rapat, pameran di sejumlah kota maupun digital (internet) baik di Jakarta dan Bali hingga keluar negeri," kata Kepala Kantor Kesatuan Pengelolaan Hutan Produksi Barito Hulu Unit V Kabupaten Barito Utara, Rudy Chandra Utama di Muara Teweh, Jumat.

Menurut Rudy, produk kerajinan bahan baku rotan ini dalam bentuk anyaman tikar untuk hiasan dinding dengan harga bervariasi Rp800.000 sampai Rp1 juta, tas dan dompet tergantung motif dan warna Rp50 ribu hingga Rp500 ribu per buah.

Pihaknya sudah menjalin komunikasi dengan toko souvenir di Bali dan Jakarta dan daerah lainnya, namun kendala kontinuitas dan sistem pembayaran yang membuat perdagangan anyaman rotan ini belum maksimal.

"Kendalanya saat ini hasil kerajinan mereka tidak rutin diproduksi padahal saya sudah komunikasi dengan `buyer` di Jogjakarta dan Bali dengan tujuan ekspor diantaranya ke Singapura, Eropa, Korea dan Jepang yang sangat mengutamakan kualitas dan kelanjutan memproduksi barang," katanya.

Rudy menambahkan kondisi ini sangat perlu kita kondisikan dengan perajin karena saat ini mereka bertransaksi perorangan belum terorganisir, selain itu masyarakat atau pengrajin maunya dibayar dulu baru buat barangnya atau dibayar pada saat beli barang, bagi konsumen atau pembeli mereka agak ragu karena belum lihat kualitas barang.

Baca Juga: Bea Cukai Kalimantan Ringkus Kapal Penyelundup Rotan ke Malaysia
Penjualan Produk Kerajinan Kayu Hitam di Palu Menurun

Disamping itu hasil kerajinan dijual ke warga yang ada di Provinsi Kalimantan Timur dengan cara memberi modal dulu, sehingga hasil kerajinan warga di desa pedalaman yang berbatasan dengan Kabupaten Kutai Barat, Kaltim ini kita sangat dirugikan, karena dari segi hak cipta diakui sebagai produk Kaltim.

"Jadi kami akan memperjuangkan untuk promosi sehingga barang kerajinan itu sebagai hak cipta Barito Utara atau Kalteng, serta mendorong mereka untuk membentuk Badan Usaha Milik Desa atau koperasi," kata dia seperti dilansir Antaranews.

Dia mengatakan pembinaan lainnya dilakukan lebih fokus pada kelestarian lingkungan terutama menjaga kelestarian tanaman rotan yang selama ini tumbuh sendiri di hutan dan madu yang sangat bergantung dengan pohon Pungsi sebagai sumber makanannya.

"Hal pembinaan kerajinan akan kami koordinasikan dengan pemda dan provinsi khususnya Dekranasda," ujar Rudy.

Berita Terkait

Mau ke Kota, Warga Pedalaman Ini Harus Keluarkan 6 Juta Mau ke Kota, Warga Pedalaman Ini Harus Keluarkan 6 Juta
Penjualan Produk Kerajinan Kayu Hitam di Palu Menurun Penjualan Produk Kerajinan Kayu Hitam di Palu Menurun
Budaya dan Wisata Kalimantan Dipamerkan di Australia Budaya dan Wisata Kalimantan Dipamerkan di Australia

#kalimantan timur #Kalimantan Tengah #Pemerintah Daerah #desain souvenir #Kerajinan Tradisional #Konsumen #Hutan #Tanaman Bambu #madu #Jakarta

Ingin informasi lebih, follow dan Like

Komentar