Upaya Kanada Menuju Bebas dari Tas dan Sedotan Plastik

Sedotan plastik (Pxhere)

Arah - Kanada berencana melarang penggunaan sebagian plastik sekali pakai seperti sedotan, tas dan alat pemotong paling lambat pada 2021. Langkah ini sebagai upaya untuk mengurangi limbah yang tak bisa didaur ulang dan melindungi samudera dunia. 

Perdana Menteri Kanada Justin Trudeau pada Senin (10/6/2019) mengumumkan itu dari tepi danau di Gault Nature Reserve di Quebec kurang dari lima bulan sebelum pemilihan umum nasional. Perubahan iklim dan polusi termasuk dalam masalah utama kampanye untuk proses demokrasi tersebut.

"Jujur saja, sebagai seorang ayah, berat untuk berusaha menjelaskan kepada anak-anak saya. Bagaimana anda menjelaskan ikan paus mati yang terseret arus ke pantai di seluruh dunia, perut mereka dipenuhi oleh tas plastik?" kata Trudeau.

"Sebagai orang tua, kita berada pada tahap ketika kita membawa anak-anak kita ke pantai dan kita harus mencari jalan di pasir yang tidak dipenuhi sampah sedotan, Styrofoam atau botol. Ini masalah, yang harus kita tangani," tambah perdana menteri tersebut, sebagaimana dikutip Reuters --yang dipantau Antara di Jakarta, Selasa.

Langkah Kanada mengikuti Parlemen Eropa, yang awal tahun ini melakukan pemungutan suara untuk melarang beberapa produk plastik sekali pakai, dan pertikaian baru-baru ini dengan Filipina dan Malaysia mengenai limbah Kanada yang dikirim ke kedua negara itu.

Tahun lalu, Kanada menandatangani piagam plastik samudra G7 untuk mengurangi penggunaan plastik. Pada Mei, PBB menyatakan 180 negara mencapai kesepakatan mengurangi secara tajam jumlah plastik yang hanyut ke samudera.

Penundaan Kanada mengenai pelaksanaan sampai 2021 memberi waktu untuk membuat keputusan "yang didasarkan atas ilmu pengetahuan" mengenai secara pasti plastik mana "yang berbahaya buat lingkungan hidup dan kesehatan manusia", kata satu pernyataan pemerintah.

Selain itu juga akan memberi waktu bagi kelangan pengusaha untuk menyesuaikan diri. Restoran cepat saji nanti harus menemukan solusi baru untuk sedotan dan alat potong plastik.

Kanada belum lama ini terlibat pertikaian politik dengan Filipina sehubungan dengan 1.500 ton limbah rumah tangga --yang diberi label sebagai plastik daru ulang-- yang dikirim ke negara Asia Tenggara tersebut pada 2013 dan 2014. Kanada pada Mei setuju untuk menerimanya kembali, setelah perselisihan diplomatik yang berlarut.

Malaysia juga menyatakan akan mengembalikan 3.000 ton limbah plastik dari Kanada, Amerika Serikat, Jepang dan Inggris.

"Masalah polusi plastik akan terus dipandang sebagai masalah buat negara berkembang, yang merasa mereka ditimbuni limbah dari negara kaya --yang mesti mengurus limbah mereka sendiri di dalam negeri mereka," kata Sara Seck, profesor hukum di Dalhousie University.

Berita Terkait

Sampah Plastik di Teluk Jakarta Dapat Jadi Bom Waktu Sampah Plastik di Teluk Jakarta Dapat Jadi Bom Waktu
PM Kanada: Muslim Jadi Target Serangan Teror Masjid di Kanada PM Kanada: Muslim Jadi Target Serangan Teror Masjid di Kanada
Daftar Nama Korban Tewas Akibat Crane Jatuh Daftar Nama Korban Tewas Akibat Crane Jatuh

#Kanada #sampah plastik #Jakarta

Ingin informasi lebih, follow dan Like

Komentar