Sultan: Perlu Islah untuk Dinginkan Suhu Politik Pasca-pilpres

Dok.Sri Sultan HB X pada acara Deklarasi Hari Motivasi Nasional. (wikipedia)

Arah - Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Sri Sultan Hamengku Buwono X mengatakan diperlukan upaya membangun islah bagi kedua pihak yang berkontestasi untuk mendinginkan tensi politik usai pemilihan umum Presiden dan Wakil Presiden 2019.

Sultan mengatakan, jika diresapi dalam sebuah kesadaran sejarah, saat ini mirip dengan situasi pada tahun 1948, ketika Bangsa Indonesia menghadapi ujian yang diwarnai perpecahan kalangan elitenya karena gesekan politik yang mengancam desintegrasi bangsa.

"Bukankah situasi tahun 1948 itu mirip dengan peristiwa di tahun 2019 ketika kita seakan terbelah menjadi dua golongan bangsa, konsekuensinya diperlukan upaya membangun islah," kata Sultan dalam sambutan pengarahan acara Syawalan Gubernur DIY bersama jajaran Pemkab Bantul.

Menurut Sultan, dalam kajian hukum Islam, islah adalah memperbaiki, mendamaikan dan mengembalikan harmoni kehidupan serta menghilangkan sengketa atau kerusakan, sehingga kalau dalam satu golongan terjadi perbedaan perlu ada pihak ketiga yang menengahi dan mengislahkannya.

"Dalam kaitan ini pada surat Al-Hujarat ayat 10 mengisyaratkan orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara, sebab itu damaikanlah, perbaikilah hubungan antara kedua saudaramu itu, dan bertakwalah kepada Allah SWT supaya kamu mendapat rahmat," katanya.

Karena itu, Sultan mengatakan, Idul Fitri bisa dijadikan momen bagi semua pihak untuk mempererat kembali tali silaturahmi, tidak hanya sebatas berjabat tangan dan saling memaafkan.

"Melainkan dikembangkan menjadi kebersamaan, kerja sama saling berbagi dan bersinergi dalam membangun peradaban yang bermartabat untuk mengejar kemajuan bangsa-bangsa lain di dunia," katanya.

Baca Juga: Jelang Sidang MK, Kapolda Jabar Imbau Warga Tak ke Jakarta
Menkominfo Belum Ambil Sikap Pembatasan Medsos Saat Sidang MK

Sultan mengatakan, dalam menghadapi hangatnya iklim berpolitikan saat ini, kalangan masyarakat harus bersikap dan bertindak sesuai dengan pepatah jawa yaitu "Ngeli Tanpo Keli" atau menghanyut tapi tidak ikut terhanyut.

"Artinya kita yang berada di daerah baik bagi yang bersimpati kepada 01 maupun 02 keduanya amat terbuka untuk bersama-sama memasuki gerbang islah kultural," pungkasnya.(ant)


Berita Terkait

Jelang Sidang MK, Kapolda Jabar Imbau Warga Tak ke Jakarta       Jelang Sidang MK, Kapolda Jabar Imbau Warga Tak ke Jakarta
Sambangi MK, TKN Konsultasi Menjadi Pihak Terkait Sambangi MK, TKN Konsultasi Menjadi Pihak Terkait
Serahkan Perbaikan ke MK, Ini yang Disertakan Tim Hukum Prabowo  Serahkan Perbaikan ke MK, Ini yang Disertakan Tim Hukum Prabowo

#Sri Sultan Hamengku Buwono X #pilpres 2019 #sengketa pemilu #Jakarta

Ingin informasi lebih, follow dan Like

Komentar