Diusulkan Rp30.000, Cukai Plastik Nabati Bisa Lebih Rendah

Ilustrasi kantong plastik (Pxhere)

Arah - Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) mengusulkan cukai plastik untuk kantong plastik Rp30.000/kg. Besaran ini dengan memperhatikan besaran negara-negara lain di Asia.

"Kalau kita bandingkan Asia saja, usulan Rp30.000 itu relatif rendah, hanya Vietnam yang mengenakan Rp24.900, Malaysia sekitar Rp63.000 sekian, Filipina Rp200.000 sekian," ujar Direktur Jenderal Bea dan Cukai Dirjen Heru Pambudi di Jakarta dilansir situs Kemenkeu, Rabu (10/7/2019).

Menurut Heru, usulan Rp30.000.kg juga memperhatikan industri yang harus tumbuh. Angka Rp30.000 masih dapat naik atau turun, namun untuk sementara angka tersebut merupakan angka titik tengah yang dianggap adil bagi industri sekaligus pemerhati lingkungan.

"Mengapa Indonesia tidak setinggi mereka, average? Karena kita harus memperhatikan industri yang harus tumbuh dan survive, jangan sampai mereka yang selama ini bergantung hidupnya dari industri plastik tidak bisa melanjutkan kegiatan bisnisnya, pekerjaannya. Itulah angka titik tengah yang kita anggap relevan. Tentunya ini akan terus dibicarakan, apakah naik ataukah turun. Tetapi Rp30.000 adalah fair," jelasnya.

Heru menambahkan, tarif cukai plastik untuk kantong plastik berbahan nabati dapat lebih rendah dari Rp30.000/kg bahkan bisa dibebaskan sama sekali atau nol.

"Pemerintah tidak menerapkan tarif tunggal. Kenapa? Karena tarif Rp30.000/kg itu ditujukan untuk plastik yang tidak ramah lingkungan. Untuk yang ramah lingkungan, kita terapkan di bawahnya, bahkan ada yang nol (contoh dari singkong atau jagung)," terangnya.

Baca Juga: DPR Ingatkan Pemerintah Hati-hati dalam Berutang
Pemerintah Beri Insentif Perpajakan untuk Investasi Sektor Ini

Dia menjelaskan singkong atau jagung yang tidak terserap sepenuhnya, dapat dijadikan bahan produksi kantong plastik. Untuk pabrik kantong plastik berbahan kimia, lanjut dia, dapat ikut memproduksi kantong plastik nabati dari keduanya agar ramah lingkungan.

"Ada dua benefit. Singkong atau jagung yang tidak terserap sepenuhnya misalnya bisa kita alokasikan untuk produksi kantong ini dan yang pabrikan kantong, bisa tetap melanjutkan kegiatan industrinya tetapi beralih dari yang sebelumnya kantong plastik kimia jadi kantong yang ramah lingkungan dari nabati," pungkasnya.

Berita Terkait

DKI Akan Terbitkan Perda Larangan Penggunaan Air Tanah DKI Akan Terbitkan Perda Larangan Penggunaan Air Tanah
KPK Diminta Tuntaskan Kasus Suap Emirsyah, Jika Tidak... KPK Diminta Tuntaskan Kasus Suap Emirsyah, Jika Tidak...
Sandiaga Uno Diperiksa Polda Metro Sandiaga Uno Diperiksa Polda Metro

#Bea Cukai #Kantong Plastik #Kemenkeu #Jakarta

Ingin informasi lebih, follow dan Like

Komentar