Strategi Baru Teknologi Modifikasi Cuaca dengan Kalsium Oksida

Modifikasi teknologi sebagai upaya menghilangkan asap karhutla menggunakan Kalsium Oksida atau kapur tohor aktif (CaO) yang bersifat eksotermis (bersifat mengeluarkan panas). (Foto:BNPB)

Arah - Kabut asap pekat dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menjadi faktor yang menghambat proses penguapan sebagai syarat terbentuknya awan. Asap karhutla tertahan dan melayang di angkasa sehingga sinar matahari tidak tembus ke bumi dan proses penguapan air terhambat.

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memantau potensi pertumbuhan awan memang masih sulit terjadi. Sedangkan upaya penyemaian garam (NaCl) sebagai syarat untuk membuat hujan buatan dibutuhkan awan yang mencapai minimal 80%.

Atas dasar tersebut, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) berkolaborasi dengan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) dan BMKG menerapkan modifikasi teknologi sebagai upaya menghilangkan asap karhutla menggunakan Kalsium Oksida atau kapur tohor aktif (CaO) yang bersifat eksotermis (bersifat mengeluarkan panas).

Kapur tohor ditaburkan di gumpalan asap sehingga dapat mengurai partikel karhutla dan gas. Akibatnya asap hilang dan radiasi matahari bisa menembus ke permukaan bumi.

"Radiasi matahari terhalangi kabut asap, jadi awan susah terbentuk karena penguapan terhambat. Dengan kapur tohor aktif ini diharapkan konsentrasi asap berkurang, awan terbentuk, dan garam bisa ditebar untuk hujan buatan," ujar Kepala Balai Besar Teknologi Modifikasi Cuaca BPPT Tri Handoko Seto.

Rilis BNPB menyebutkan, pihak BPPT telah menyiapkan 40 ton kapur tohor aktif yang sudah disiagakan di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur. Setelah mendapat arahan, pihaknya bisa menerbangkan kapur tersebut ke beberapa provinsi terdampak karhutla seperti Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Riau, Jambi dan Sumatera Selatan.

Baca Juga: 99 Persen Kahutla Akibat Ulah Manusia
Petugas 119 Tangani Balita Terpapar Asap Karhutla di Riau

Untuk menaburkan kapur tersebut, BPPT akan menggunakan tiga jenis pesawat yakni Cassa 212 dengan kapasitas 800 kilogram, CN 295 dengan kapasitas 2.4 ton dan pesawat Hercules C 130 dengan kapasitas 4-5 ton.

Permasalahan karhutla tidak bisa hanya ditangani dengan menggunakan pemadaman darat dan udara saja. Kepala BNPB, Doni Monardo sebelumnya telah menyampaikan solusi karhutla adalah hujan. Sedangkan BMKG telah memprediksi musim hujan akan masuk pada pertengahan Oktober. Karena itu, hujan buatan harus segera dilakukan untuk mengatasi masalah ini.

Berita Terkait

Jakarta Diprediksi Hujan Siang Hingga Malam Nanti Jakarta Diprediksi Hujan Siang Hingga Malam Nanti
Waspada, Ada Peningkatan Kecepatan Angin di Barat Indonesia Waspada, Ada Peningkatan Kecepatan Angin di Barat Indonesia
Perkiraan Hari Ini Jakarta Cerah Berawan Perkiraan Hari Ini Jakarta Cerah Berawan

#Cuaca #BNPB #hujan #Jakarta

Ingin informasi lebih, follow dan Like

Komentar