Orde Baru Larang Rambut Gondrong dan Bergaya Musisi Rock Barat

Band Metal Beside asal Indonesia (foto/instagram)

Arah - Hari Pochang yang merupakan salah satu personel band progersif rock 70-an, Gang of Harry Roesli membenarkan kalau saat Orde Baru berkuasa, referensi kebudayaan relatif lebih bebas diterima oleh anak muda ketimbang era Orde Lama.

Namun, bukan berarti tak ada keresahan bagi anak muda saat itu. Karena nyatanya, rezim yang baru cukup lekat dengan militerisme.

Anak rock mencoba melawan itu. Tak ayal, semangat perlawanan kaum hippie yang juga sedang marak di Amerika menjadi cocok diadopsi oleh sebagian kalangan anak muda Indonesia.

Mereka bahkan tak hanya mengadopsinya lewat gaya bermusik tetapi juga gaya hidup.

Dalam memori Pochang, di kawasan Jalan Dago, Kota Bandung saat itu mudah ditemui anak muda bergaya hippie dengan rambut gondrong mengenakan baju bercorak bunga hingga hidup 'menggelandang' di ruas jalan itu.

"Saat itu (di kota) banyak juga tentara yang baru pulang dari Kalimantan, Operasi Dwikora. Itu musuhnya orang gondrong (hippie). Karena rezim tentara itu ternyata sangat terasa di era Orba. Kalau (hippies) di luar menyebutnya pig, di sini kami sebut sato (bahasa Sunda yang berarti binatang)," ucap dia.

Budaya hippies yang mulai marak di beberapa kota besar, dalam titik tertentu dinilai sudah meresahkan.

Aria Wiratma Yudistira dalam "Dilarang Gondrong!" menyebut kalau pemerintah menilai keberadaan kaum hippies sudah menganggu ketertiban umum karena pakaian yang tidak teratur, kebiasaan hidup yang menggangu perasaan susila, tidak mempunyai tempat tinggal tetap, dan membawa obat bius tanpa persetujuan dokter.

Pochang membenarkan hal itu. Menurutnya, represi pemerintah pada kaum hippies tak hanya lewat teguran tetapi sudah mulai masuk ke razia.

Dia punya kenangan saat harus menyembunyikan temannya di bagasi mobil karena takut kena razia pemotongan rambut dan celana cutbray.

"Dulu saya sama kang Harry Roesly pulang manggung, dapat kabar dari teman kalau di Jalan Tamblong ada razia, kebetulan seorang teman kami ada yang gondrong sekali dan akhirnya sampai dimasukin ke bagasi mobil. The Rollies bahkan sampai jalan kaki dari Dago Tea House lewat jalan ke kampung untuk pulang ke daerah kota agar tidak melewati aparat yang sedang merazia," ucap dia.

Namun makin dilarang, anak muda bukannya kapok malah makin menjadi. Musik menjadi salah satu sarana yang kuat atas gairah pembangkangan mereka.

Baca Juga: Perjalanan Rock Di Indonesia: Musik Tetapi Juga Pemberontakan
Ternyata Hulk Ada di Dunia Nyata Lho

Jika di luar pahlawan mereka adalah musisi-musisi yang banyak disebut tadi, maka di Indonesia juga mulai muncul beberapa nama yang jadi acuan seperti AKA dari Surabaya, Bentoel dari Malang, God Bless dari Jakarta, The Rollies dari Bandung, dan lain-lain.

Kejayaan musik rock hadir di awal dekade 70.

"Larangannya kan tidak masuk akal. Mau nonton film, tiba-tiba ada razia. Celana juga kan dipotong. Caranya memang cara militer. Keresahan itu diekspresikan lewat musik," ucap dia.

Berita Terkait

Wah, Band Tanpa Vokal Ternyata Asyik Juga Wah, Band Tanpa Vokal Ternyata Asyik Juga
Legenda Rock N Roll Dunia, Chuck Berry Meninggal Dunia Legenda Rock N Roll Dunia, Chuck Berry Meninggal Dunia
Ini Penyebab Rolling Stone Indonesia Tutup Ini Penyebab Rolling Stone Indonesia Tutup

#Musik Rock N Roll #Musik #Jakarta

Ingin informasi lebih, follow dan Like

Komentar