Peneliti Sebut 3 Resolusi Selesaikan Konflik Papua

okoh Pemuda Papua, Methodius Kosas (kiri) saat memaparkan sejumlah permasalahan di Papua dalam Seminar Nasional bertema "Jalan Damai Penyelesaian Konflik Di Papua" di Universitas Satya Negara Indonesia, Jakarta, Senin (21/10/2019). (Antara Foto/Syaiful Hakim)

Arah - Ketua Tim Kajian Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Adriana Elisabeth menyebutkan, untuk menyelesaikan persoalan Papua, ada tiga resolusi konflik yang bisa dilakukan pemerintah.

"Pertama, manajemen konflik. Kedua, pencegahan konflik, dan ketiga transformasi konflik," ujar di Jakarta, Senin (21/10/2019).

Menurut dia, manajemen konflik penting dilakukan untuk mengurangi masalah perbedaan pemahaman Papua, mengurangi kesalahpahaman, dan menganalisa faktor yang melemahkan proses perdamaian.

"Harmonisasi pendekatannya melalui dialog dan pendekatan pembangunan, hukum, dan polkam," katanya.

Terkait pencegahan konflik yang harus dijadikan pendekatan adalah keamanan manusia, membangun kohesi sosial (mencegah konflik antarwarga Papua), pemberdayaan secara inklusif, dan ketahanan nasional (evaluasi regulasi, penguatan kelembagaan, koordinasi dan sinergi).

"Transformasi konflik, yakni mengubah potensi negatif menjadi positif. Pendekatan pada proses dan perubahan atau perbaikan setiap aspek. Proses jangka panjang, multitrack dan inklusif melalui pemberdayaan generasi muda, pemberdayaan perempuan dan lain-lain," katanya.

Selain itu, harmonisasi aturan kelembagaan dan pendekatan terintegrasi juga sangat penting dilakukan di Papua. Kemudian, evaluasi dan penataan pendekatan keamanan negara dan pendekatan keamanan manusia.

"Kita harus menjalankan harmonisasi pendekatan yakni dengan adanya dialog dan pendekatan pembangunan. Harmonisasi kelembagaan itu penting karena setiap lembaga harus bahu-membahu dalam mengatasi konflik di Papua," kata Adriana.

Baca Juga: Penyederhanaan Birokrasi, Pangkas Regulasi Panjang dan Berbelit
Berkemeja Putih, Prabowo Subianto Datangi Istana Kepresidenan

Tokoh Pemuda Papua Methodius Kosas menjelaskan, situasi yang terjadi di Papua sudah dilihat dari beberapa tahun yang diwarnai kekerasan. Padahal, masyarakat di Papua merupakan sebuah agen perubahan untuk masa depan.

"Adanya luka batin kepercayaan yang dialami oleh masyarakat Papua, yang merupakan metode pendekatan, seperti pendekatan budaya, religius, humanistik dan pendekatan personal. Ini merupakan permasalahan yang sedang terjadi di Papua," katanya.(ant)

 

Berita Terkait

Jembatan Hamadi-Holtekam di Papua Terlebar di Indonesia Jembatan Hamadi-Holtekam di Papua Terlebar di Indonesia
Galang Solidaritas, Ketua DPR  Berikan Gajinya Untuk  Asmat Galang Solidaritas, Ketua DPR Berikan Gajinya Untuk Asmat
Begini Caranya Siswa Mimika Mencintai Sejarah Begini Caranya Siswa Mimika Mencintai Sejarah

#Papua #konflik #Peneliti #Jakarta

Ingin informasi lebih, follow dan Like

Komentar