Bikin Terenyuh Alasan Pria Non Muslim Bereskan Sendal di Mesjid

Paman Steven Pria Non-Muslim Yang Ajarkan Toleransi Lewat Merapihkan Sendal di Masjid Al-Mawaddah Saat Salat Jumat (Foto Istimewa)

Arah - Berbuat baik adalah kewajiban kita sebagai umat manusia, tanpa harus memandang ras, suku, dan agama. Ada kisah yang bisa kita jadikan cerminan tentang indahnya toleransi.

Berkisah tentang seorang pria paruh baya di Singapura, tanpa pernah berhitung, dia melakukan kebaikan kepada umat Islam.

Setiap waktu sholat Jumat tiba, paman yang terlihat tidak memakai alas kaki ini pasti ada di halaman Masjid Al Mawaddah Singapura. Ketika jemaah khusyuk mendengarkan khutbah, paman ini sibuk menata alas kaki di halaman masjid.

Ketika sholat Jumat selesai, dia segera berada di jalanan. Membantu mengurai arus lalu lintas di depan masjid agar tidak terjadi kemacetan.

Meski non-Muslim, paman bernama Steven Tan Lee Meng, ini rutin menata alas kaki di masjid setiap Jumat. Untuk menghargai kesucian masjid, dia selalu berada di luar dan tak pernah mau menapakkan kaki di ruang sholat.

"Semua datang ke masjid dari kantor atau dari rumah memakai alas kaki, tetapi setelah itu ada yang kehilangan sandal. Makanya saya bantu menata," ujar pria yang pernah bekerja sebagai teknisi komputer ini.

Bagi Paman Steven, melakukan kebaikan dengan membantu orang lain mendatangkan kepuasan dalam hidup. Dia pun membantah melakukannya karena alasan uang.

"Ada orang yang memberi saya uang tapi saya jelaskan ke mereka, saya bukan datang untuk uang, saya hanya ingin membantu. Mereka bilang ke saya terima saja dan boleh disedekahkan uang itu," kata pria yang berumur 55 tahun ini.

Baca Juga: Pergantian Ronaldo dan Polemik Gol Aaron Ramsey
Unik, Rumah Ini Dapurnya di Malaysia, Ruang Tamunya di Indonesia

Paman Steven mengidap gangguan kejiwaan bipolar. Dia tinggal dengan kakak perempuannya, Bibi Tan Geck Kian, 59 tahun, yang juga menderita gangguan jiwa, di kawasan Hougang.

Bibi Kian membenarkan hingga sekarang Paman Steven masih menjalani rawat jalan di Institut Kesehatan Mental. Bahkan dulu Paman Steven pernah harus dirawat intensif di sana.

Meski begitu, kehadiran Paman Steven tidak pernah dianggap sebagai masalah oleh pengurus maupun jemaah Masjid Al Mawaddah. Relawan tetap Masjid Al Mawaddah, Shahrudin Rudin, 60 tahun, mengatakan Paman Steven tidak mengganggu orang malah membantu merapikan sepatu supaya ada ruang sholat yang lebih luas.

"Kalau tidak ada dia, saya yang melakukan ini sendirian," kata dia,

Syed Mohamed Bathushah, merupakan salah satu orang yang selalu memberikan buah tangan kepada Paman Steven. Dia merasa tersentuh dengan kebaikan Paman Steven.

"Tiap saya lihat dia, hati saya tersentuh, masih ada orang seperti ini di Singapura. Meski punya gangguan mental dan non-Muslim, hatinya mulia," Ujar Jemaah Masjid Al Mawaddah.

Berita Terkait

PAN: Nasdem Dianggap Anti Islam dari Ucapan Viktor Laiskodat PAN: Nasdem Dianggap Anti Islam dari Ucapan Viktor Laiskodat
Menag: Agama Digunakan untuk Hal Promotif Bukan Konfrontatif Menag: Agama Digunakan untuk Hal Promotif Bukan Konfrontatif
Aa Gym: Hentikan Tindakan yang Bisa Memecah Belah Bangsa Aa Gym: Hentikan Tindakan yang Bisa Memecah Belah Bangsa

#Toleransi #Toleransi Agama #AGAMA #agama islam #Jakarta

Ingin informasi lebih, follow dan Like

Komentar